Jumat, 27 Juli 2018

Stikes mandala waluya kendari



BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk hidup yang kompleks. Baik dari morfologi, anatomi hingga fisiologinya. Semua  itu bertujuan untuk keseimbangan kerja dari sistem organ tersebut. Meninjau balik dari organisasi kehidupan sistem organ merupakan gabungan dari beberapa organ yang saling mendukung dan sinergis dalam melakukan kerjanya.
Anatomi dan fisiologi adalah ilmu dalam bidang kesehatan yang mempelajari di dalamnya anatomi dan fisiologi metabolisme tubuh, anatomi dan fisiologi sistem saraf, anatomi dan fisiologi sistem digestif, anatomi dan fisiologi payudara, otak, panggul, dan bagian tubuh lainnya. Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan hubungan antara bagian-bagian tubuh. Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi bagian-bagian tubuh dan tubuh secara keseluruhan. Beberapa pengkhususan di dalam setiap ilmu ini adalah sebagai berikut.
Sistem organ akan menuyusun organisme, satu sistem organ dapat bekerja dengan sistem organ lainnya sehingga terciptanya hemoistasis tubuh. Sistem organ yang menyusun manusia tersusun atas sistem Muskuloskeletal, sistem respirasi, sistem sirkulasi, sistem pencernaan, sistem saraf, sistem hormone, sistem reproduksi, sistem integument, sistem urinaria.
Dalam ilmu farmasi, dikenal istilah anatomi dan fisiologi manusia. Di dalam anatomi, akan dipelajari tentang struktur-struktur tubuh. Sedangkan di dalam fisiologi, akan dipelajari tentang fungsi tubuh manusia yang menyangkut bagaimana bekerjanya sistem-sistem yang ada di dalam tubuh manusia.
Pada laporan kali ini akan dibahas tentang fisiologi manusia yang menyangkut sistem-sistem di dalam tubuh manusia tersebut, khususnya sistem endokrin pada manusia. Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar-kelenjar tersebut tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa kelenjar endokrin ada yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon ganda) dan ada yang menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal), misalnya kelenjar hipofisis sebagai pengatur kelenjar yang lain. Kelenjar-kelenjar endokrin ini pula memiliki peranan yang sangat penting, tetapi dengan fisiologis yang berbeda-beda, di dalam tubuh manusia berperan untuk menjaga keseimbangan aktivitas tubuh.
Di dalam sistem endokrin, mekanisme kerja hormon terdiri dari dua mekanisme yaitu melalui stimulasi kerja enzim yang ada di dalam sel dan mengaktivasi gen yang terlibat melalui transkripsi dan translasi.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih memahami serta mengetahui tentang sistem endokrin (yang meliputi kelenjar beserta hormonnya), maka dilakukanlah suatu praktikum yang membahas tentang hal ini.
I.2 Maksud Percobaan
Agar mengetahui anatomi dan fisiologi sistem endokrin pada hewan uji coba mencit (Mus muscullus).
I.3 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi sistem endokrin serta fungsi dari sistem endokrin.

I.4 Prinsip Percobaan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada mencit (Mus muscullus) sebagai hewan uji yang dibedah dari bagian perut dan dadanya, kemudian diamati sistem endokrin pada mencit yaitu dari kelenjar timus dan kelenjar pankreas.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Sistem endokrin merupakan suatu sistem yang bekerja dengan perantara zat-zat kimia (hormon) yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin atau yang lebih sering dikenal dengan kelenjar buntu (sekresi secara internal) akan mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah dan cairan limfe. Hasil sekresi tersebut beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati saluran (ductus). Adapun hasil dari sekresi disebut dengan hormon. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin. Sistem endokrin bekerja sama dengan sistem saraf yang mempunyai peranan penting dalam pengendalian kegiatan organ-organ tubuh. Oleh karena itu, kelenjar endokrin mengeluarkan suatu zat yang disebut hormon (Syarifuddin, 2002).
Sistem endokrin dapat dijumpai pada semua golongan hewan, baik yang vertebrata maupun invertebrata. Sistem endokrin (hormon) dan sistem saraf secara bersama lebih dikenal sebagai supra sistem neuroendokrine yang secara kooperatif untuk menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi tubuh pada hewan. Pada umumnya, sistem endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai fungsi fisiologis dalam tubuh, antara lain aktivitas metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik dan regulasi ionik (Isnaeni, 2006).
Sistem endokrin terdiri atas badan-badan jaringan kelenjar, seperti tiroid, tapi juga terdiri atas kelenjar yang ada di dalam suatu organ tertentu, seperti testis, ovarium, dan jantung. Sistem endokrin menggunakan hormon untuk mengendalikan dan mengatur fungsi tubuh (Parker, 2009).
Salah satu fungsi terpenting sistem endokrin adalah mempertahankan lingkungan internal. Keadaan stabil ini disebut sebagai homeostatis. Mekanisme homeostatis mengimbangi perubahan kondisi eksternal. Sebagai contoh, mamalia telah berkembang menjadi hewan homeotermik (berdarah panas) sehingga proses kimiawi yang essensial untuk fungsi fisiologis dapat berlangsung di bawah kondisi suhu yang optimal. Fluktuasi suhu dipantau dan mekanisme homeostatik memastikan bahwa suhu tubuh terjaga dalam batas sempit yang telah ditentukan. Homeostatis dicapai melalui integrasi sistem saraf dan sistem endokrin, yang sering disebut sebagai sistem umpan balik. Pelepasan hormon sering dipicu oleh stimulasi neurologis. Pelepasan hormon juga dapat distimulasi oleh hormon lain. Faktor yang memudahkan pelepasan hormon disebut sebagai pengaruh positif dan faktor yang menghambat pelepasan hormon disebut pengaruh negatif (Coat & Dunstall, 2006).
Hormon terdiri dari dua kelas utama yaitu derivat asam amino, seperti protein, polipeptida, peptida, amina atau kompleks protein konjugasi seperti glikoprotein adalah hormon yang diproduksi kelenjar hipofisis, hipotalamus, medula adrenal, pineal, tiroid, sel-sel pulau pankreas dan sel-sel dalam saluaran pencernaan. Zat ini umumnya dapat larut dalam air dan ditranspor dalam bentuk yang tidak berikatan dalam darah. Steroid adalah senyawa lipid larut lemak yang disintesis dari kolesterol. Zat ini diproduksi oleh ovarium, testis, plasenta dan bagian luar kelenjar adrenal serta testosteron, esterogen, progesteron, aldosteron dan kortisol. Zat ini bersirkulasi dalam plasma yang mentranspor protein (Sloane, 2003).
II.2 Uraian Bahan
1.      Eter (FI Edisi III, 1979)
Nama resmi     : AETHER ANASTHETICUS
Nama lain        : Eter anastesi, efoksierana
Rm/Bm            : C4H10C/74,12
Pemerian         : Cairan transparan, tidak berwarna, bau khas, rasa manis atau membakar, sangat mudah terbakar.
Kelarutan        : Larutan dalam 10 bagian air; dapat tercampur dengan etanol (95%) P, dengan Kloroform P, minyak lemak dan minyak atsiri.
Penyimpanan   : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan        : Anastesi umum
II.3 Uraian Hewan Uji
a.       Klasifikasi mencit (Mus Muscullus)
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mamalia
Ordo: Rodentia
Family: Muridae
Genus: Mus
Spesies: Mus Muscullus
b.      Karakteristik mencit (Mus Muscullus)
Lama hidup: 1-2 tahun
Lama bunting: 19-21 hari
Umur disapih: 21 hari
Umur dewasa: 35 hari
Siklus kelamin: Poliestrus
Siklus estrus: 4-5 hari
Lama estrus: 12-24 jam
Berat dewasa: 20-40 gram jantan; 18-35 gram betina
Berat lahir: 0,5-1,0 gram
Jumlah anak: rata-rata 6 bisa 15
Sulu (Rektal): 35-39oC (rata-rata 37,4oC)


BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
1.      Alat yang digunakan
a.       Benang
b.      Buku gambar
c.       Gunting bedah
d.      Jarum Pentul
e.       Papan bedah
f.       Pensil
g.      Pensil warna
h.      Pinset
2.      Bahan
a.       Eter
3.      Hewan
Mencit (Mus Musculus)
III.2 Prosedur Kerja
1.      Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2.      Dibasahi kapas dengan eter kemudian dimasukkan kedalam toples.
3.      Dimasukkan mencit ke dalam toples yang telah beris kapas, kemudian dibiarkan beberapa menit hingga mencit pingsan.
4.      Setelah mencit pingsan, kemudian dikeluarkan dan diletakkan diatas papan bedah dengan posisi terlentang kemudian ditusuk telapak tangan dan kaki mencit menggunakan jarum pentul.
5.      Mencit (Mus Muscullus) dibedah menggunakan pisau bedah dan gunting bedah.
6.      Setelah dibedah, kemudian dilihat kelenjar tiroid, paratiroid, thymus, kelenjar adrenal, pankreas, ovarium, dan testis.
7.      Digambar.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Gambar Kelenjar Timus
       IV.1.1 Kelenjar Timus               IV.1.2 Kelenjar Timus
                   pada Manusia                                         pada Mencit
        unnamed.jpg                IMG-20180109-WA0039.jpg

IV.2 Gambar Kelenjar Pankreas
       IV.2.1 Kelenjar Pankreas pada Manusia
000303800_1485760183-pankreas.jpg

IV.2.2 Kelenjar Pankreas pada MencitIMG-20180109-WA0082.jpg
IV.3 Tabel Pengamatan
No.
Organ
Ukuran (cm)
Letak
Fungsi
1
Timus
Panjang 2 cm
Lebar 0,5 cm
Terletak didaerah dada
Sistem imun (kekebalan)
2
Pankreas
Panjang 0,3 cm
Lebar 1,5 cm
Terletak sebelah bawah lambung
-          Mengubah glukosa menjadi glikogen dihati.
-          Mengubah glikogen menjadi glukosa.



BAB V
PEMBAHASAN
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone. Berasal dari sel-sel epitel yang melakukan proliferasi kea rah pengikat sel epitel yang telah berproliferasi dan membentuk sebuah kelenjar endokrin, tumbuh dan berkembang dalam pembuluh kapiler. Dalam keadaan fisiologis hormon mempunyai pengaturan sendiri sehingga kadarnya selalu dalam keadaan optium untuk menjaga keseimbangan dalam organ yang berada di bawah pengaruhnya, mekanisme pengaturan ini disebut sistem umpan balik negative.
Kelenjar timus terletak dibagian posterior toraks terhadap sternum dan melapisi bagian atas jantung. Seiring pertambahan usia kelenjar ini mengecil. Hormon yang dihasilkan timosin. Mengendalikan sistem imun dependen timus dengan menstimulus diferensiasi dan poliferasi sel limfosit T. Berperan dalam penyakit immunodefisiensi kongental yaitu tidak mampu total dalam memproduksi anti bodi (Sloane 2003:214).
Pankreas merupakan kelenjar yang berfungsi ganda. Pankreas menghasilkan enzim pencernaan didalam sel yang disebut asini, tapi juga mempunyai fungsi endokrin. Diantara jaringan asini terdapat sekitar satu juta kumpulan yang disebut pulau Langerhans. Pulau langerhans sel penghasil hormon yang terlibat dalam kendali glukosa (gula darah), sumber energi dalam tubuh. Sel beta menghasilkan hormon insulin, yang memacu pengambilan glukosa oleh sel dan mempercepat perubahan glukosa menjadi glikogen untuk disimpan didalam hati. Dengan cara ini insulin menurunkan kadar glukosa darah.hormon lain, glukagon , dihasilkan di sel alfa yang bekerja berlawanan, yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Sel delta membentuk somastostatin, yang mengatur sel alfa dan beta (Parker, 2009).
Pada percobaan ini, menggunakan hewan uji mencit (Mus muscullus). Karena mencit memiliki sistem endokrin yang sama dengan manusia.
Percobaan dilakukan dengan membius mencit menggunakan cairan kloroform yaitu dengan membasahi kapas dengan kloroform kemudian dimasukkan kedalam toples. Mencit dimasukkan kedalam toples yang berisi kapas yang telah dibasahi eter. Kegunaan eter disini adalah sebagai anastesi agar mencit pingsan. Setelah mencit benar-benar pingsan, mencit kemudian diletakkan pada papan bedah dengan posisi terlentang kemudian ditusukkan jarum pentul ke telapak kaki. Mencit dibedah dan dilihat organ pernapasan dalamnya.
Sistem endokrin yang diamati pada hewan uji mencit (Mus muscullus) adalah kelenjar timus dan pankreas. Pada kelenjar timus letak dan ukurannya, timus terletak di daerah dada dan memiliki ukuran panjang 2 cm; lebar 0,5 cm. Sistem endokrin kedua yang diamati adalah kelenjar pankreas, pankreas terletak sebelah bawah lambung. Pankreas memiliki panjang 0,3 cm dan lebar 1,5cm.
Kesalahan yang mungkin terjadi pada percobaan ini kesalahan pada saat membedah mencit yang menyebabkan organ dalam mencit terluka dan kesalahan pada saat pengukuran organ dalam mencit menggunakan mistar.


BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Sistem endokrin pada hewan uji mencit (Mus muscullus) sama dengan sistem endokrin manusia. Pada pengukuran sistem endokrin mencit didapatkan hasil panjang kelenjar timus 2 cm dan lebarnya 0,5 cm. Hasil pengukuran panjang pankreas 0,3 cm dan lebarnya 1,5 cm.
VI.2 Saran
Saran dan prasarana mohon untuk organ lebih dilengkapi dari kelancaran praktikum yang akan dilakukan.



DAFTAR PUSTAKA
Coad, J & Dustal, M. 2006. Anatomi dan Fisiologi Untuk Bidan. EGC Jakarta.
Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisus. Jogyakarta.
Parker, Steve. 2009. Ensklopedia Tubuh Manusia. Erlangga. Jakarta.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. EGC. Jakarta.
Syaifuddin. H. 2004. Struktur dan Komponen Tubuh Manusia. Widiya Medika. Jakarta.