BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Manusia
merupakan makhluk hidup yang kompleks. Baik dari morfologi, anatomi hingga
fisiologinya. Semua itu bertujuan untuk
keseimbangan kerja dari sistem organ tersebut. Meninjau balik dari organisasi
kehidupan sistem organ merupakan gabungan dari beberapa organ yang saling
mendukung dan sinergis dalam melakukan kerjanya.
Anatomi dan fisiologi adalah ilmu dalam bidang kesehatan yang
mempelajari di dalamnya anatomi dan fisiologi metabolisme tubuh, anatomi dan
fisiologi sistem saraf, anatomi dan fisiologi sistem digestif, anatomi dan
fisiologi payudara, otak, panggul, dan bagian tubuh lainnya. Anatomi adalah ilmu yang mempelajari
struktur dan hubungan antara bagian-bagian tubuh. Fisiologi adalah ilmu yang
mempelajari fungsi bagian-bagian tubuh dan tubuh secara keseluruhan. Beberapa
pengkhususan di dalam setiap ilmu ini adalah sebagai berikut.
Sistem
organ akan menuyusun organisme, satu sistem organ dapat bekerja dengan sistem
organ lainnya sehingga terciptanya hemoistasis tubuh. Sistem organ yang
menyusun manusia tersusun atas sistem Muskuloskeletal, sistem respirasi, sistem
sirkulasi, sistem pencernaan, sistem saraf, sistem hormone, sistem reproduksi,
sistem integument, sistem urinaria.
Dalam
ilmu farmasi, dikenal istilah anatomi dan fisiologi manusia. Di dalam anatomi,
akan dipelajari tentang struktur-struktur tubuh. Sedangkan di dalam fisiologi,
akan dipelajari tentang fungsi tubuh manusia yang menyangkut bagaimana
bekerjanya sistem-sistem yang ada di dalam tubuh manusia.
Pada
laporan kali ini akan dibahas tentang fisiologi manusia yang menyangkut
sistem-sistem di dalam tubuh manusia tersebut, khususnya sistem endokrin pada
manusia. Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang
tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain.
Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah
ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan
"pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan
kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan
kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Kelenjar
endokrin atau kelenjar buntu merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil
sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan.
Kelenjar-kelenjar tersebut tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil
sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa kelenjar endokrin ada yang
menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon ganda) dan ada yang
menghasilkan satu macam hormon (hormon tunggal), misalnya kelenjar hipofisis
sebagai pengatur kelenjar yang lain. Kelenjar-kelenjar endokrin ini pula
memiliki peranan yang sangat penting, tetapi dengan fisiologis yang
berbeda-beda, di dalam tubuh manusia berperan untuk menjaga keseimbangan
aktivitas tubuh.
Di
dalam sistem endokrin, mekanisme kerja hormon terdiri dari dua mekanisme yaitu
melalui stimulasi kerja enzim yang ada di dalam sel dan mengaktivasi gen yang
terlibat melalui transkripsi dan translasi.
Berdasarkan
uraian di atas, untuk lebih memahami serta mengetahui tentang sistem endokrin
(yang meliputi kelenjar beserta hormonnya), maka dilakukanlah suatu praktikum
yang membahas tentang hal ini.
I.2 Maksud Percobaan
Agar
mengetahui anatomi dan fisiologi sistem endokrin pada hewan uji coba mencit (Mus muscullus).
I.3 Tujuan Percobaan
Untuk
mengetahui anatomi dan fisiologi sistem endokrin serta fungsi dari sistem
endokrin.
I.4 Prinsip Percobaan
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan pada mencit (Mus
muscullus) sebagai hewan uji yang dibedah dari bagian perut dan dadanya,
kemudian diamati sistem endokrin pada mencit yaitu dari kelenjar timus dan
kelenjar pankreas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Sistem endokrin
merupakan suatu sistem yang bekerja dengan perantara zat-zat kimia (hormon)
yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin atau yang lebih
sering dikenal dengan kelenjar buntu (sekresi secara internal) akan mengirim
hasil sekresinya langsung ke dalam darah dan cairan limfe. Hasil sekresi
tersebut beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati saluran (ductus).
Adapun hasil dari sekresi disebut dengan hormon. Sistem endokrin terdiri dari
kelenjar-kelenjar endokrin. Sistem endokrin bekerja sama dengan sistem saraf
yang mempunyai peranan penting dalam pengendalian kegiatan organ-organ tubuh.
Oleh karena itu, kelenjar endokrin mengeluarkan suatu zat yang disebut hormon
(Syarifuddin, 2002).
Sistem
endokrin dapat dijumpai pada semua golongan hewan, baik yang vertebrata maupun
invertebrata. Sistem endokrin (hormon) dan sistem saraf secara bersama lebih
dikenal sebagai supra sistem neuroendokrine
yang secara kooperatif untuk menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi
tubuh pada hewan. Pada umumnya, sistem endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai
fungsi fisiologis dalam tubuh, antara lain aktivitas metabolisme, pertumbuhan,
reproduksi, regulasi osmotik dan regulasi ionik (Isnaeni, 2006).
Sistem
endokrin terdiri atas badan-badan jaringan kelenjar, seperti tiroid, tapi juga
terdiri atas kelenjar yang ada di dalam suatu organ tertentu, seperti testis,
ovarium, dan jantung. Sistem endokrin menggunakan hormon untuk mengendalikan
dan mengatur fungsi tubuh (Parker, 2009).
Salah
satu fungsi terpenting sistem endokrin adalah mempertahankan lingkungan internal.
Keadaan stabil ini disebut sebagai homeostatis. Mekanisme homeostatis
mengimbangi perubahan kondisi eksternal. Sebagai contoh, mamalia telah
berkembang menjadi hewan homeotermik (berdarah panas) sehingga proses kimiawi
yang essensial untuk fungsi fisiologis dapat berlangsung di bawah kondisi suhu
yang optimal. Fluktuasi suhu dipantau dan mekanisme homeostatik memastikan
bahwa suhu tubuh terjaga dalam batas sempit yang telah ditentukan. Homeostatis
dicapai melalui integrasi sistem saraf dan sistem endokrin, yang sering disebut
sebagai sistem umpan balik. Pelepasan hormon sering dipicu oleh stimulasi
neurologis. Pelepasan hormon juga dapat distimulasi oleh hormon lain. Faktor
yang memudahkan pelepasan hormon disebut sebagai pengaruh positif dan faktor
yang menghambat pelepasan hormon disebut pengaruh negatif (Coat & Dunstall, 2006).
Hormon terdiri dari dua kelas utama yaitu
derivat asam amino, seperti protein, polipeptida, peptida, amina atau kompleks
protein konjugasi seperti glikoprotein adalah hormon yang diproduksi kelenjar
hipofisis, hipotalamus, medula adrenal, pineal, tiroid, sel-sel pulau pankreas
dan sel-sel dalam saluaran pencernaan. Zat ini umumnya dapat larut dalam air
dan ditranspor dalam bentuk yang tidak berikatan dalam darah. Steroid adalah
senyawa lipid larut lemak yang disintesis dari kolesterol. Zat ini diproduksi
oleh ovarium, testis, plasenta dan bagian luar kelenjar adrenal serta
testosteron, esterogen, progesteron, aldosteron dan kortisol. Zat ini
bersirkulasi dalam plasma yang mentranspor protein (Sloane, 2003).
II.2 Uraian Bahan
1. Eter
(FI Edisi III, 1979)
Nama
resmi : AETHER ANASTHETICUS
Nama
lain : Eter anastesi, efoksierana
Rm/Bm : C4H10C/74,12
Pemerian : Cairan transparan, tidak berwarna,
bau khas, rasa manis atau membakar, sangat mudah terbakar.
Kelarutan : Larutan dalam 10 bagian air; dapat
tercampur dengan etanol (95%) P, dengan Kloroform P, minyak lemak dan minyak
atsiri.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Anastesi umum
II.3 Uraian Hewan Uji
a. Klasifikasi
mencit (Mus Muscullus)
Kingdom:
Animalia
Phylum:
Chordata
Class:
Mamalia
Ordo:
Rodentia
Family:
Muridae
Genus:
Mus
Spesies:
Mus Muscullus
b. Karakteristik
mencit (Mus Muscullus)
Lama
hidup: 1-2 tahun
Lama
bunting: 19-21 hari
Umur
disapih: 21 hari
Umur
dewasa: 35 hari
Siklus
kelamin: Poliestrus
Siklus
estrus: 4-5 hari
Lama
estrus: 12-24 jam
Berat
dewasa: 20-40 gram jantan; 18-35 gram betina
Berat
lahir: 0,5-1,0 gram
Jumlah
anak: rata-rata 6 bisa 15
Sulu
(Rektal): 35-39oC (rata-rata 37,4oC)
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
1. Alat
yang digunakan
a. Benang
b. Buku
gambar
c. Gunting
bedah
d. Jarum
Pentul
e. Papan
bedah
f. Pensil
g. Pensil
warna
h. Pinset
2. Bahan
a. Eter
3. Hewan
Mencit
(Mus Musculus)
III.2 Prosedur Kerja
1. Disiapkan
alat dan bahan yang digunakan.
2. Dibasahi
kapas dengan eter kemudian dimasukkan kedalam toples.
3. Dimasukkan
mencit ke dalam toples yang telah beris kapas, kemudian dibiarkan beberapa
menit hingga mencit pingsan.
4. Setelah
mencit pingsan, kemudian dikeluarkan dan diletakkan diatas papan bedah dengan
posisi terlentang kemudian ditusuk telapak tangan dan kaki mencit menggunakan
jarum pentul.
5. Mencit
(Mus Muscullus) dibedah menggunakan
pisau bedah dan gunting bedah.
6. Setelah
dibedah, kemudian dilihat kelenjar tiroid, paratiroid, thymus, kelenjar
adrenal, pankreas, ovarium, dan testis.
7. Digambar.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Gambar Kelenjar
Timus
IV.1.1 Kelenjar Timus IV.1.2 Kelenjar Timus
pada Manusia pada Mencit

IV.2 Gambar Kelenjar
Pankreas
IV.2.1 Kelenjar Pankreas pada Manusia

IV.2.2 Kelenjar
Pankreas pada Mencit

IV.3 Tabel Pengamatan
No.
|
Organ
|
Ukuran (cm)
|
Letak
|
Fungsi
|
1
|
Timus
|
Panjang 2 cm
Lebar 0,5 cm
|
Terletak didaerah
dada
|
Sistem imun
(kekebalan)
|
2
|
Pankreas
|
Panjang 0,3 cm
Lebar 1,5 cm
|
Terletak sebelah
bawah lambung
|
-
Mengubah glukosa
menjadi glikogen dihati.
-
Mengubah glikogen
menjadi glukosa.
|
BAB V
PEMBAHASAN
Kelenjar
endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam
darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran
dan hasil sekresinya disebut hormone. Berasal dari sel-sel epitel yang
melakukan proliferasi kea rah pengikat sel epitel yang telah berproliferasi dan
membentuk sebuah kelenjar endokrin, tumbuh dan berkembang dalam pembuluh
kapiler. Dalam keadaan fisiologis hormon mempunyai pengaturan sendiri sehingga
kadarnya selalu dalam keadaan optium untuk menjaga keseimbangan dalam organ
yang berada di bawah pengaruhnya, mekanisme pengaturan ini disebut sistem umpan
balik negative.
Kelenjar
timus terletak dibagian posterior toraks terhadap sternum dan melapisi bagian
atas jantung. Seiring pertambahan usia kelenjar ini mengecil. Hormon yang
dihasilkan timosin. Mengendalikan sistem imun dependen timus dengan menstimulus
diferensiasi dan poliferasi sel limfosit T. Berperan dalam penyakit
immunodefisiensi kongental yaitu tidak mampu total dalam memproduksi anti bodi
(Sloane 2003:214).
Pankreas
merupakan kelenjar yang berfungsi ganda. Pankreas menghasilkan enzim pencernaan
didalam sel yang disebut asini, tapi juga mempunyai fungsi endokrin. Diantara
jaringan asini terdapat sekitar satu juta kumpulan yang disebut pulau
Langerhans. Pulau langerhans sel penghasil hormon yang terlibat dalam kendali
glukosa (gula darah), sumber energi dalam tubuh. Sel beta menghasilkan hormon
insulin, yang memacu pengambilan glukosa oleh sel dan mempercepat perubahan
glukosa menjadi glikogen untuk disimpan didalam hati. Dengan cara ini insulin
menurunkan kadar glukosa darah.hormon lain, glukagon , dihasilkan di sel alfa
yang bekerja berlawanan, yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Sel delta
membentuk somastostatin, yang mengatur sel alfa dan beta (Parker, 2009).
Pada
percobaan ini, menggunakan hewan uji mencit (Mus muscullus). Karena mencit memiliki sistem endokrin yang sama
dengan manusia.
Percobaan
dilakukan dengan membius mencit menggunakan cairan kloroform yaitu dengan
membasahi kapas dengan kloroform kemudian dimasukkan kedalam toples. Mencit
dimasukkan kedalam toples yang berisi kapas yang telah dibasahi eter. Kegunaan
eter disini adalah sebagai anastesi agar mencit pingsan. Setelah mencit
benar-benar pingsan, mencit kemudian diletakkan pada papan bedah dengan posisi
terlentang kemudian ditusukkan jarum pentul ke telapak kaki. Mencit dibedah dan
dilihat organ pernapasan dalamnya.
Sistem
endokrin yang diamati pada hewan uji mencit (Mus muscullus) adalah kelenjar timus dan pankreas. Pada kelenjar
timus letak dan ukurannya, timus terletak di daerah dada dan memiliki ukuran
panjang 2 cm; lebar 0,5 cm. Sistem endokrin kedua yang diamati adalah kelenjar
pankreas, pankreas terletak sebelah bawah lambung. Pankreas memiliki panjang
0,3 cm dan lebar 1,5cm.
Kesalahan
yang mungkin terjadi pada percobaan ini kesalahan pada saat membedah mencit
yang menyebabkan organ dalam mencit terluka dan kesalahan pada saat pengukuran
organ dalam mencit menggunakan mistar.
BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Sistem
endokrin pada hewan uji mencit (Mus
muscullus) sama dengan sistem endokrin manusia. Pada pengukuran sistem
endokrin mencit didapatkan hasil panjang kelenjar timus 2 cm dan lebarnya 0,5
cm. Hasil pengukuran panjang pankreas 0,3 cm dan lebarnya 1,5 cm.
VI.2 Saran
Saran
dan prasarana mohon untuk organ lebih dilengkapi dari kelancaran praktikum yang
akan dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Coad, J
& Dustal, M. 2006. Anatomi dan Fisiologi Untuk Bidan. EGC Jakarta.
Isnaeni,
W. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisus. Jogyakarta.
Parker, Steve. 2009. Ensklopedia Tubuh Manusia. Erlangga.
Jakarta.
Sloane, Ethel.
2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula.
EGC. Jakarta.
Syaifuddin. H. 2004. Struktur dan Komponen Tubuh Manusia.
Widiya Medika. Jakarta.